KATA PENGANTAR
Puji syukur kami haturkan kepada Tuhan Yang Maha Esa atas terselesaikannya penulisan laporan hasil praktikum kami yang berjudul “.......................................................... “.
Selama proses penulisan dan penyusunan laporan ini, meskipun kami menemui beberapa kendala tetapi Alhamdulillah semuanya bisa teratasi Hal ini tidak terlepas dari bantuan berbagai pihak yang turut serta memberikan dorongan dan sumbangsih pemikiran dalam pembuatan laporan hasil praktikum ini. Sehingga pada akhirnya dapat terselesaikan dengan baik. Oleh karena itu, penulis ucapkan terima kasih kepada :
1. Bapak Eko Cahyono,S.Pd selaku Guru Pembimbing SMA Negeri 1 Lasem yang terus memberikan dorongan semangat dan bimbingan untuk terus berkreativitas.
2. Kedua orang tua kami yang terus memberikan masukan dan bimbingan sehingga karya ilmiah ini bisa terselasaikan dengan baik.
3. Berbagai pihak yang tidak bisa kami sebutkan satu persatu yang telah memberikan dorongan baik material, immaterial, maupun spiritual selama proses pembuatan dan penyusunan laporan hasil praktikum ini.
Akhirnya, Kami menyadari bahwa laporan hasil praktikum ini masih jauh dari sempurna, maka dari itu dengan segala kerendahan hati , Kami memohon kritik dan saran yang membangun dari semua pihak demi perbaikan laporan hasil praktikum ini di waktu yang akan datang. Semoga laporan hasil praktikum kami ini dapat memberikan manfaat bagi masyarakat pada umumnya serta Para Pengusaha Batik pada umumnya.
PENGESAHAN HASIL PRAKTIKUM
Nama Kelompok :
1.Anita Zulaikha { 04 } 4.Nur Afifah { 18 }
2.Ayuk Suryani { 06 } 5.Setiadi Arianto { 23 }
3.Nayla Ma’unah { 17 } 6.Sriyati { 24 }
Kelas : XI IPA
Sekolah : SMA Negeri 1 Lasem
Judul Praktikum : ”KREATIVITAS BATIK LASEM DI SEKOLAH ”
Guru Pembimbing : 1. Eko Cahyono S,Sn
Lasem,1 Mei 2011
Guru Pembimbing
Eko Cahyono S,Sn
NIP.
Mengesahkan,
Kepala SMA Negeri 1 Lasem,
Dra. Sri Purwaningsih,S.Pd
NIP. 195710081981112001
LAPORAN HASIL PRAKTIKUM
”KREATIVITAS BATIK LASEM DI SEKOLAH ”
DISUSUN OLEH:
1.Anita Zulaikha { 04 } 4.Nur Afifah { 18 }
2.Ayuk Suryani { 06 } 5.Setiadi Arianto { 23 }
3.Nayla Ma’unah { 17 } 6.Sriyati { 24 }
SMA NEGERI 1 LASEM
TAHUN PELAJARAN 2010/2011
BAB I
PENDAHULUAN
A. LATAR BELAKANG
Memenuhi kebutuhan hidup adalah tujuan utama setiap individu,baik jasmani maupun rohani .Hal ini terjadi jauh hari sebelum nenek moyang kita dilahirkan.Pada dasarnya manusiia tidak dapat hidup sendiri tanpa bantuan orang lain hal ini dikatakan manusia sebagai mahluk sosial.Manusia mempunyai kebutuhan yang saling berkesinambungan, Antara kebutuhan jasmani dan kebutuhan rohani.
Dahulu manusia memenuhi kebutuhan rohaninya dengan berdo’a kepada leluhur/secara religius,berkaryab dan lain sebagainya.Hal ini terlihat dari peninggalan-peninggalan mereka yang kini mulai banyak ditemukan, baik berupa benda/fosil,maupun gambar gambar yang terdapad di goa-goa.
Menggambar adalah ungkapan rasa takjub,kagum akan apa yang pernah terlintasdimata manusia.
B. TUJUAN DAN MANFAAT PENULISAN
1. Tujuan Penulisan
-Untuk memenuhi tugas akhir Praktikum batik
-Untuk menyimpulkan hasil kerja setelah Praktikum
2. Manfaat Penulisan
-Untuk mengetahui proses pembuatan batik
-Untuk mengetahui bahan bahan yang diperlukan dalam membatik
BAB II
LANDASAN TEORI
A. LILIN BATIK
Lilin batik adalah bahan yang digunakan untuk menutup permukaan kain menurut gambar motif batik, sehingga permukaan yang ditutup tersebut mempunyai sifat resist atau menolak warna yang dibrikan pada kain. Bahan pokok lilin adalah : Gondorukem, Damar mata kucing, Parafin (putih dan kuning), Microwax, lemak binatang, minyak kelapa, lilin tawon, lilin lancing.
Pada awalnya bahan yang digunakan untuk menutup kain adalah bubur dari ketan, dan kain yang dibuat ini disebut kain simbut. Setelah diketemukannya lilin batik, bubur ketan sudah tidak dipakai lagi.
Pada awalnya lilin batik hanya terbuat dari lilin tawon saja (orang jawa menyebutnya sebagai malam batik), kemudian karena bertambah pengalamannya kemudian dicampur dengan gondorukem dan dammar mata kucing. Kemudian untuk melemaskan atau menurunkan titik lelehnya maka dicampur dengan lemak binatang ataupun minyak kelapa.
I. Bahan-Bahan Yang Terdapat pada Lilin Batik
Malam tawon :Mudah meleleh dan titik lelehnya rendah (59), mudah melekat pada kain, tahan lama,
mudah lepas pada lorodan dengan air panas. Biasanya dipakai untuk campuran lilin
klowong.
Gondorukem :Tidak mudah meleleh dan titik lelehnya tinggi (70-80), bila encer mudah menembus
kain,setelah membeku mudah patah. Biasanya dipakai untuk campuran lilin klowong
maupun tembokan. Maksud pemakaian gondorukem adalah agar lilin batik menjadi
lebih keras dan tidak mudah membeku.
Dammar mata kucing:Dammar dipakai sebagai campuran lilin batik agar lilin batik dapat
Membentuk bekas atau garis-garis lilin yang baik, melekat pada kain dengan baik.
Adapun sifatnya adalah sukar meleleh dan cepat membeku.
Paraffin : Mempunyai daya tolak tembus basah yang baik, mudah encer(titik leleh rendah) dan
lekas membeku, daya lekat kecil dan mudah lepas. Penggunaan paraffin dimaksudkan
agar lilin batik mempunyai daya tahan tembus basah yang baik, mudah lepas waktu
dilorod serta sebagai bahan pengisi karena harganya yang lebih murah dibandingkan
dengan bahan lainnya.
Microwax / lilin micro : Jenis paraffin yang lebih halus, keadaannya lemas (ulet) seperti malam
tawon, mudah lepas, sukar menembus kain, titik lelehnya tinggi (70). Biasanya
digunakan dalam pembuatan batik-batik kwalitas halus.
Lemak binatang : Mudah leleh (45). Dipakai sebagai campuran lilin batik dalam jumlah relative
kecil untuk merendahkan titik leleh sehingga liin batik menjadi lemas dan mudah lepas
waktu dilorod.
II. Cara Mencampur Lilin Batik / Menjebor
a) Bahan lilin batik yang mempunyai titik leleh paling tinggi dilelehkan lebih dahulu, kemudian berturut-turut bahan yang lebih rendah titik lelehnya.
b) Setelah semua bahan mencair kemudian diaduk dengan baik dan rata agar campuran betul-betul homogen.
c) Campuran yang sudah larut sempurna kemudian disaring dengan kain dan dicetak kemudian didinginkan.
Pengetahuan tentang sifat dan karakteristik lilin batik sangat diperlukan agar karya yang dihasilkan bisa maksimal. Sebagai contoh adalah dalam pembatikan dengan menggunakan kain sutera, maka pemakaian paraffin kasar dan dammar mata kucing perlu dihindarkan karena sifatnya yang terlalu kuat melekat pada kain sutera.
Contoh resep lilin batik
1. Lilin batik klowong tulis
2 bagian dammar mata kucing,4 bagian gondorukem,3 bagian lilin bekas,1 bagian paraffin putih
3 bagian kote / malam tawon,1 bagian lemak binatang
2. Lilin batik tembokan tulis
1 bagian dammar mata kucing,3 bagian gondorukem,2 bagian malam tawon,0,5 bagian lemak binatang
.
B. MORI BATIK
Kain putih yang dijadikan batik mempunyai beberapa istilah selain mori, yaitu muslim ataupun cambric. Kata mori berasal dari Bombyx mori, yaitu jenis ulat sutera yang menghasilkan sutera putih dan halus. Kata muslim berasal dari kata muslin yang merupakan kependekan dari moussuline, yaitu nama semacam kain cita. Seangkan cambric artinya fine linen atau kain batis (kain putih).
Dilihat dari bahan dasarnya, kain mori dapat berasal dari katun, sutera asli atau sutera tiruan. Mori dari kain katun lebih umum dipakai.
Berdasarkan tingkat kehalusannya, mori dari katun dapat dibedakan menjadi 4 macam, yaitu golongan yang sangat halus disebut Primissima, golongan halus disebut prima, golongan sedang disebut biru dan golongan kasar/biasa disebut kain grey/blaco. Golongan sedang disebut biru karena biasanya merknya dicetak dengan warna biru, sedangkan golongan kasar disebut grey karena kainnya tidak diputihkan dan dipasaran merknya biasanya dicetak dengan warna merah.
Selain kain katun pada saat ini banyak digunakan kain yang terbuat dari kain sutera, rayon dan serat alam lainnya.
C.MOTIF BATIK
Motif batik adalah kerangka gambar yang mewujudkan batik secara keseluruhan. Motif batik disebut juga corak batik atau pola batik. Pada dasarnya pola batik klasik sangat sederhana sekali, sebagian besar terdiri dari garis lurus, garis lengkung dan bentuk-bentuk ilmu ukur yang disusun berulang-ulang secara mendatar ataupun miring.
Menurut jenis motif batik,dibagi menjadi tiga yaitu:
1. Motif batik Geometris, berupa susunan geometris
Motif Banji
Motif Ganggong
Motif Ceplokan
Motif Nitik dan Anyaman
Motif Kawung
Motif Parang dan Lereng
2. Motif batik Semen, ornamen utama berupa tumbuhan, meru, burung dan binatang
3. Motif Batik Buketan, penempatan ornamen pada bidang gambar tidak sama, dimana
pada satu sisi penuh dengan ornamen dan disisi lainnya hampir kosong
Menurut unsur-unsurnya, maka motif batik dapat dibagi menjadi dua bagian utama, yaitu :
1.Ornament motif batik, yang terbagi atas :
a. Ornamen utama, berupa meru, pohon, ular, burung dan api
Filosofi Jawa kuno :
Meru melambangkan gunung atau bumi
Api melambangkan nyala api atau agni
Ular atau naga melambangkan air atau tirta
Burung melambangkan angin atau maruta
Garuda melambangkan mahkota atau penguasa tertinggi
b. Ornamen tambahan, berupa daun dan bunga
c.
2.Isen-isen motif batik
a.berupa titik,garis,lingkaran,arsiran
C. PEWARNAAN BATIK
Zat warna dalam batik dibagi menjadi 2 jenis, yaitu zat pewarna alam dan zat pewarna sintetis. Berikut adalah yang termasuk dalam zat pewarna sintetis :
1. Zat Warna Napthol
Dari beragam zat warna sintetis yang ada dipasaran, yang sering dipakai perajin batik adalah Napthol.Napthol dapat digunakan untuk teknik celup secara cepat dan warnanya kuat. Zat warna Napthol terdiri atas dua unsur yaitu Napthol AS sebagai dasar warna dan Garam diazonium sebagai pembangkit warna.
Contoh Naptol yang banyak dipakai dalam pembatikan:
Naptol AS-G, Naptol AS-LB, Naptol AS-BO, Naptol AS-D, Naptol AS, Naptol AS-OL, Naptol AS-BR, Naptol AS-BS, Naptol AS-GR
Contoh Garam diazonium yang dipakai dalam pembatikan:
Garam Kuning GC, Garam Bordo GP, Garam Orange GC, Garam Violet B, Garam Merah R, Garam Biru BB, Garam Scarlet GG, Garam Biru B, Garam Merah 3 GL, Garam Hitam B, Garam Merah B
Perbandingan antara Napthol dan Garam diazonium adalah sebagai berikut:
Napthol : 0,5 – 3,0 gram
TRO : 1 gram
Coustic soda : secukupnya
Kedua bahan ini sukar larut dalam air. Untuk itu ditambahkan sedikit costic soda dan air mendidih. Bila sudah dipanaskan hingga larut sempurna maka larutan akan bewarna bening. Kain yang telah menyerap larutan napthol belum memiliki warna sehingga perlu dibangkitkan warnanya. Warna pada kain akan timbul setelah dikerjakan dalam larutan garam napthol (Garam Diazonium).Sedangkan larutan garam Diazonium dibuat dengan melarutkan garam tersebut sebanyak 2 – 3 kali berat napthol dalam 1 liter air dingin.
2. Zat Warna Indigosol
Zat warna Indigosol atau Bejana Larut adalah zat warna yang ketahanan lunturnya baik, berwarna rata dan cerah. Zat warna ini dapat dipakai secara pecelupan dan coletan
Contoh warna Indigosol:
Indigosol Yellow, Indigosol Green IB, Indigosol Yellow JGK, Indigosol Blue 0 4 B, Indigosol Orange HR, Indigosol Grey IBL, Indigosol Pink IR, Indigosol Brown IBR, Indigosol Violet ARR, Indigosol Brown IRRD, Indigosol Violet 2R, Indigosol Violet IBBF.
Perbandingan antara z.w. Indigosol dan pembangkit warna pada pencelupan:
Zat warna Indigosol 10 gram /Liter HCl 10 gram/L
Natrium nitrit 10 gram/Liter Air dingin 1 Liter
Air panas 1 Liter
3. Zat warna Rapid
Zat warna Rapid bentuknya berupa krim yang biasanya dilakukan dengan mencolet bidang/bagian yang akan diberi warna yang diinginkan.
Perbandingan Kostik soda dengan Zat warna Rapid :
1. Rapid merah 5 gr
Kostik soda 1 gr
Air hangat 50 cc
2. Rapid biru 5 gr
Kostik soda 1 gr
Air hangat 50 cc
4. Zat Warna Reaktif ( Remazol )
Zat warna reaktif bisa digunakan untuk pencelupan dan pencapan (printing). Zat warna reaktif berdasarkan cara pemakaiannya dapat digolongkan menjadi dua, yaitu: reaktif dingin dan reaktif panas. Untuk zat warna reaktif dingin salah satunya adalah zat warna procion, dengan nama dagang Procion MX, yaitu zat warna yang mempunyai kereaktifan tinggi dan dicelup pada suhu rendah. Oleh karena itu sifat-sifat tahan luntur warna dan tahan sinarnya sangat baik.
Nama dagang zat warna teraktif, sebagai berikut:
Procion (produk dari I.C.I), Drimarine (produk Sandoz), Cibacron (produk Ciba Geigy), Primazine(produk BASF), Remazol (produk Hoechst) dan Levafix (produk Bayer).
BAB III
METODOLOGI PRAKTIKUM
A. TEMPAT DAN WAKTU
1. TEMPAT
Praktikum ini dilaksanakan di ruang ketrampilan batik SMA NEGERI 1 LASEM
2. WAKTU
Praktikum ini dilaksanakan mulain Bulan Februari sampai Bulan Mei
B. ALAT DAN BAHAN MEMBATIK
1.ALAT MEMBATIK
a.Alat-alat pokok
-Kompor
-Wajan
-Canting tulis, meliputi:
klowong, isen-isen (cecek dan sawut),
tembok dan ceret (canting yang mempunyai dua paruh)
b.Alat-alat pembantu
-Gawangan -Meja pola -Ember -Panci kecil -Alat tulis (pensil dan spidol)
-Timbangan -Gelas ukur -Celemek -Setrika-Sikat cucian-Sarung tangan
-Panci celup / bak pewarna -Panci lorod-Pisau kerok / Scrap -Kompor besar / tungku api
2.BAHAN MEMBATIK
a.Bahan Pokok
-Kain mori (primisima, prima, biru dan blaco)
-Lilin batik (malam tawon, paraffin, dammar mata kucing,
gondorukem, microwax, lemak binatang)
-Pewarna (napthol + garam diazonium, indigosol, rhemazol)
b.Bahan pembantu
- TRO (Turkish Red Oil) -Coustic soda -Water glass -Soda ash (soda abu)
-Pati kanji -Minyak tanah -Minyak jarak -Air panas- Asam sulfat / asam chloride
C.CARA KERJA PEMBATIKAN
Adapun langkah-langkah dalam proses pembuatan batik tulis adalah :
1. Persiapan
Langkah-langkah yang perlu dilakukan dalam tahap persiapan adalah sebagai berikut :
a. Mempersiapkan semua peralatan dan bahan untuk membuat desain motif batik.
b. Membuat gambar desain, bila perlu diperjelas dengan menggunakan spidol.
c. Memindahkan gambar desain ke atas kain mori.
d. Mempersiapkan semua peralatan dan bahan untuk membatik.
2. Pembatikan
Langkah-langkah yang perlu dilakukan dalam tahap persiapan sebagai berikut :
a. Membatik klowong, yaitu membatik semua garis-garis pola (diklowong) dengan menggunakan canting dan malam klowong.
b. Membatik isen-isen, yaitu memberikan titik-titik (cecek) dan garis-garis (sawut) pada motif yang masih nampak kosong dengan menggunakan canting cecek dan sawut.
c. Menembok, yaitu menutup bagian-bagian yang lebar agar warnanya tidak berubah dengan menggunakan malam dan canting tembok.
d.
3. Pewarnaan
Bahan pewarna sintetis dalam proses pewarnaan batik banyak jenisnya, antara lain napthol, indigosol, raphide, rhemasol dan lain sebagainya. Dalam proses pearnaan kali ini akan dipakai bahan pewarna jenis napthol. Pewarna napthol terdiri atas 2 komponen utama, yaitu napthol dengan kode (AS) dan garam diazonium sebagai pembangkit warna.
Adapun cara pemakaian napthol adalah sebagai berikut :
a. Cat napthol dalam bentuk powder (bubuk) diletakkan dalam panci, diberi sedikit TRO dan air, diaduk campur seperti pasta kemudian diberi air panas secukupnya, lalu dimasukan kostik soda yang dibutuhkan. Diaduk dan akan menjadi larutan yang jernih kemerahan atau kekuningan. Bila larutan itu masih keruh berarti belum larut sempurna sehingga perlu ditambah kostik soda atau dipanaskan lagi. Perbandingan antara napthol : TRO : Coustic soda adalah 1 : 0,5 : 0,5 ditambah air panas secukupnya.
b. Larutan yang sudah jadi dimasukkan kedalam tempat celup (ember ) dan ditambah air biasa sampai mencapai jumlah yang diinginkan. Misalnya untuk sepotong kain panjang 2,5 meter diperlukan air 2-3 liter.
c. Kain yang sudah siap dicelup kemudian dimasukkan dan direndam kedalam larutan napthol selama seperempat jam dan selalu dibalik-balik.
d. Kain kemudian diangkat dari larutan napthol dan diatuskan dengan disampirkan ditempat terbuka yang teduh.
e. Garam diazonium yang sudah dipersiapkan sesuai kebutuhan dimasukkan kedalam panci, diberi air sedikit dan diaduk, kalau sudah basah semua lalu diberi air secukupnya ( jangan air panas ). Larutan diazonium yang sudah jadi kemudian dimasukkan kedalam ember celup, lalu diberi air secukupnya. Perbandingan antara napthol : garam diazonium adalah 1 : 2-3
f. Kain celupan napthol yang sudah atus kemudian dimasukkan kedalam larutan diazonium selama 10 menit dan dibalik-balik setiap saat. Pada perendaman ini timbul warna dan arah warnanya sesuai jenis napthol dan garamnya.
Peringatan :
- Larutan napthol dan garam diazonium tidak boleh dicampur jadi satu karena akan timbul warna dan warna akan menjadi rusak.
- Dalam proses pewarnaan tidak boleh terkena sinar matahari secara langsung karena dapat merusak warna.
Pada pewarnaan dengan napthol, apabila warna yang dikehendaki kurang kuat maka perlu diulang lagi proses pencelupan atau disebut juga “2 kali celup”.
4. Pelorodan
Setelah selesai proses pewarnaan maka dilanjutkan dengan proses melorod, yaitu menghilangkan malam secara keseluruhan dengan menggunakan air mendidih ditambah dengan soda abu secukupnya agar malam segera lepas dari kain. Adapun caranya adalah sebagai berikut :
a. Memasak air sampai mendidih ditambah dengan soda abu / water glass / pati kanji secukupnya.
b. Kain dimasukkan ke dalam air panas sambil diangkat-angkat (dikopyok). Setelah itu dimasukkan kedalam air dingin dan dikucek sampai bersih. Proses ini bisa dilakukan berulang-ulang sampai kain bersih dari sisa-sisa malam batik.
5. Finishing
Pekerjaan terakhir dalam proses pembuatan kain batik adalah finishing produk. Finishing bisa dilakukan dengan cara berikut :
a. Kain yang sudah selesai dilorod dan dikeringkan kemudian disetrika agar kelihatan halus dan licin.
b. Kain digunting sesuai dengan bentuk dan ukuran yang diinginkan.
c. Kain di wool soom.
Demikian beberapa tahapan yang terdapat dalam proses pembuatan kain batik kurang lebihnya bisa di perhatikan di halaman lampiran.
D.HAMBATAN/ KENDALA DALAM MEMBATIK
a.Pada alat yaitu : -canting ,biasanya tersumbat sehingga malamnya tidak dapat keluar.
,pada ukuran canting apabila tidak sesuai dengan motif yang
di gambar mengakibatkan Mblobor/ Terblok daerah yang tidak
di inginkan.
,canting yang rusak biasanya menghambat/ memperjelek hasil.
-kompor,seringkali apabila nyala api kompor kecil sehingga malam
tidak dapat encer merata.
-gawangan, gawangan yang tidak layak,sebaiknya di perbaharui.
b.Pada bahan yaitu: -malam,apabila malam tercampur debu ,ketika encer bisa terambil kertika
] mencanting.
,malam kurang encer menyebabkan malam tidak tembus merata.
c.Pada orang yaitu: - membatik membutuhkan kesabaran yang tinggi.
d.pada proses pewarnaan: - sebaiknya dilakukan agak lama untuk meratakan warna.
e. pada proses pelorodan: - dilakukan dengan air memdidih
BAB IV
KESIMPULAN DAN SARAN
A. Kesimpulan
Dalam praktikum pembuatan batik yang telah kami selesaikan dapat disimpulkan bahwa
membuat satu helai kain Batik membutuhkan waktu yang cukup lama untuk kami sebagai
pemula.
B. Saran
Demi keselamatan kerja ada beberapa hal yang perlu di perhatikan antara lain :
1.Memakai pakaian kerja .
2.Mentaati semua peraturan dalam praktikum.
3.Menyiapkan Alat dan Bahan praktikum sebaik mungkin.
4.Lestarikan budaya Batik sedini mungkin.
5.Pembuang limbah setelah usai Batik
LAMPIRAN
Dalam proses pembatikan banyak istilah-istilah dalam bahasa jawa yang perlu diketahui dan dimengerti oleh peserta didik agar mudah untuk memahami proses kerja pembatikan. Adapun istilah-istilah yang perlu diketahui antara lain adalah :
a. Desain : Rancangan gambar
b. Memola : Memindahkan desain pada kain mori, bisa menggunakan kaca (diblat) ataupun digambar langsung di kain mori.
c. Membatik : Proses menggambar pada kain mori dengan menggunakan canting batik dan malam panas.
d. Nglowongi : Membatik sesuai dengan garis-garis pola dengan menggunakan canting dan malam klowong.
e. Memberi isen-isen : Membatik pada motif batik untuk member isen-isen berupa cecek (titik-titik) atau sawut (garis) agar motif batik kelihatan lebih indah dengan menggunakan canting cecek dan canting sawut.
f. Menembok : Menutup (ngeblok) pada bagian motif yang lebar-lebar agar warnanya tidak berubah dengan menggunakan canting tembok / kuas gambar dan malam tembok.
g. Melorod : Proses menghilangkan malam batik dengan menggunakan air panas / mendidih sampai malamnya tidak menempel pada kain.
h. Finishing : Proses akhir dalam pembatikan meliputi mencuci, menyetrika sampai di wool-soom.
• Motif Tambahan
Bunga dan Daun
Bunga dan Daun
• Motif Tambahan
Hewan dan Tumbuhan
Motif Semen Alit
Motif Jalu Mampang
Motif Sri Wedari
Motif Sekar Kemuning
Motif Kokrosono
Motif Doro Sajodo
Motif Ceplok Mekar
Motif Ceplok Lestari